Penerimaan Publik & Lingkungan:
Survei Nasional oleh PP17 dan Kawula17 menunjukkan bahwa 48% responden khawatir terhadap dampak lingkungan dari proyek pembangunan IKN di Kalimantan Timur, dengan peningkatan perhatian dibandingkan survei sebelumnya. Menariknya, penolakan terhadap IKN lebih rendah di kalangan pemuda di bawah 24 tahun, meskipun mereka dikenal peduli terhadap isu lingkungan.
Ketua Umum Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), Suraya Afiff:
Banyak responden khawatir IKN akan menyebabkan kerusakan yang lebih tinggi, sementara sedikit responden yang percaya IKN akan bermanfaat untuk masyarakat setempat dan ekonomi Indonesia. Hal ini mungkin didasari oleh pengalaman yang responden lihat di banyak tempat di Indonesia bahwa apa yang dijanjikan pemerintah belum tentu sejalan dengan prakteknya. Fakta yang nanti menunjukkan siapa yang sesungguhnya mendapat keuntungan dan siapa yang terpinggirkan akan mempengaruhi persepsi orang tentang dampak dari pembangunan IKN
Tercatat penolakan terhadap proyek IKN relatif rendah di antara orang-orang di bawah usia 24 tahun yang diidentikkan memiliki kepedulian yang tinggi terkait isu-isu seperti ini.
Manajer Interim PP17, Ingmar:
Hasil ini mengejutkan. Anak muda umumnya cenderung lebih idealis dan peduli dengan isu-isu seperti ini, dan biasanya penurunan idealisme terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, pada kasus ini bukan itu masalahnya. Sebaliknya, orang-orang berusia 25 tahun ke atas yang mengungkapkan kekhawatiran paling besar tentang dampak lingkungan dari IKN
Kependudukan:
Hasil Pendataan Penduduk IKN (PPIKN) oleh BPS mencatat populasi di wilayah delineasi IKN mencapai 147.427 jiwa (setara dengan 43.293 rumah tangga). Jika dilihat berdasarkan kelompok generasi, dari total sekitar 147.430 jiwa penduduk Ibu Kota Nusantara, mayoritas merupakan generasi Z dan generasi milenial. Kedua kelompok usia ini secara keseluruhan mencakup lebih dari setengah populasi IKN.
sumber bacaan: kawula17, video-kontan
Survei Nasional oleh PP17 dan Kawula17 menunjukkan bahwa 48% responden khawatir terhadap dampak lingkungan dari proyek pembangunan IKN di Kalimantan Timur, dengan peningkatan perhatian dibandingkan survei sebelumnya. Menariknya, penolakan terhadap IKN lebih rendah di kalangan pemuda di bawah 24 tahun, meskipun mereka dikenal peduli terhadap isu lingkungan.
Ketua Umum Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), Suraya Afiff:
Banyak responden khawatir IKN akan menyebabkan kerusakan yang lebih tinggi, sementara sedikit responden yang percaya IKN akan bermanfaat untuk masyarakat setempat dan ekonomi Indonesia. Hal ini mungkin didasari oleh pengalaman yang responden lihat di banyak tempat di Indonesia bahwa apa yang dijanjikan pemerintah belum tentu sejalan dengan prakteknya. Fakta yang nanti menunjukkan siapa yang sesungguhnya mendapat keuntungan dan siapa yang terpinggirkan akan mempengaruhi persepsi orang tentang dampak dari pembangunan IKN
Tercatat penolakan terhadap proyek IKN relatif rendah di antara orang-orang di bawah usia 24 tahun yang diidentikkan memiliki kepedulian yang tinggi terkait isu-isu seperti ini.
Manajer Interim PP17, Ingmar:
Hasil ini mengejutkan. Anak muda umumnya cenderung lebih idealis dan peduli dengan isu-isu seperti ini, dan biasanya penurunan idealisme terjadi seiring bertambahnya usia. Namun, pada kasus ini bukan itu masalahnya. Sebaliknya, orang-orang berusia 25 tahun ke atas yang mengungkapkan kekhawatiran paling besar tentang dampak lingkungan dari IKN
Kependudukan:
Hasil Pendataan Penduduk IKN (PPIKN) oleh BPS mencatat populasi di wilayah delineasi IKN mencapai 147.427 jiwa (setara dengan 43.293 rumah tangga). Jika dilihat berdasarkan kelompok generasi, dari total sekitar 147.430 jiwa penduduk Ibu Kota Nusantara, mayoritas merupakan generasi Z dan generasi milenial. Kedua kelompok usia ini secara keseluruhan mencakup lebih dari setengah populasi IKN.
sumber bacaan: kawula17, video-kontan












