![]() |
| latihan manajemen data |
Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) secara konsisten memperkuat tata kelola dan pemanfaatan data sebagai landasan utama pengambilan keputusan serta pelaksanaan pembangunan kota cerdas (smart city) berstandar global.
Langkah strategis ini diawali melalui gelaran Nusantara Smart City Stakeholders Forum di Swissôtel Nusantara pada Selasa, 1 September 2026. Ajang yang diinisiasi bersama United States Trade and Development Agency (USTDA) ini mempertemukan pemerintah, akademisi, organisasi independen, hingga raksasa teknologi global seperti Honeywell, Cisco, IBM, dan Google. Selain membuka peluang kemitraan investasi jangka panjang, forum ini diisi dengan pelatihan teknis komprehensif, mulai dari sains data (data science), pengelolaan gedung pintar (smart building), hingga tata kelola data strategis berbasis kecerdasan buatan (AI-driven data governance).
Dalam forum tersebut, Otorita IKN turut melibatkan sejumlah pemerintah daerah yang telah berpengalaman mengimplementasikan tata kelola berbasis data—seperti Pemprov DKI Jakarta, Pemkab Sumedang, Pemkot Denpasar, dan Pemkot Surabaya—sebagai rujukan penting dalam merancang ekosistem digital Nusantara. Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, Agung Indrajit, menegaskan bahwa transformasi digital di IKN wajib menempatkan masyarakat sebagai pusat pembangunan. “Kota yang paling cerdas belum tentu kota yang memiliki teknologi paling banyak. Kota yang paling cerdas adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakatnya,” ucap Agung dalam keterangan resminya, Kamis, 3 September 2026.
Komitmen tersebut ditindaklanjuti secara internal melalui kegiatan Jumat Belajar bertema "Manajemen dan Pemanfaatan Data" di Kantor Otorita IKN pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kegiatan yang menghadirkan Direktur Sistem Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Joko Parmiyanto, ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) birokrasi dalam mewujudkan digital government. Penguatan tata kelola data dinilai semakin krusial karena adopsi teknologi canggih tidak akan berfungsi optimal tanpa dukungan data yang terstandar, transparan, terintegrasi, dan aman.
Sebagai peta jalan ke depan, Agung Indrajit merumuskan tiga aspek utama yang harus didorong dalam pengelolaan data IKN: membangun data berkualitas yang melibatkan instansi pembina (seperti BPS untuk data statistik, BIG untuk data geospasial, dan Kemenkeu untuk data keuangan); memperkuat integritas serta interoperabilitas lintas instansi; serta meningkatkan pemanfaatan data melalui analisis mendalam (deskriptif, diagnostik, prediktif, hingga preskriptif). Melalui sinkronisasi ini, Otorita IKN memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan—mulai dari perencanaan hingga evaluasi kebijakan—selalu didasarkan pada data akurat yang dapat dipertanggungjawabkan.
sumber bacaan: rri, seputarfakta, jurnalborneo
Langkah strategis ini diawali melalui gelaran Nusantara Smart City Stakeholders Forum di Swissôtel Nusantara pada Selasa, 1 September 2026. Ajang yang diinisiasi bersama United States Trade and Development Agency (USTDA) ini mempertemukan pemerintah, akademisi, organisasi independen, hingga raksasa teknologi global seperti Honeywell, Cisco, IBM, dan Google. Selain membuka peluang kemitraan investasi jangka panjang, forum ini diisi dengan pelatihan teknis komprehensif, mulai dari sains data (data science), pengelolaan gedung pintar (smart building), hingga tata kelola data strategis berbasis kecerdasan buatan (AI-driven data governance).
Dalam forum tersebut, Otorita IKN turut melibatkan sejumlah pemerintah daerah yang telah berpengalaman mengimplementasikan tata kelola berbasis data—seperti Pemprov DKI Jakarta, Pemkab Sumedang, Pemkot Denpasar, dan Pemkot Surabaya—sebagai rujukan penting dalam merancang ekosistem digital Nusantara. Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN, Agung Indrajit, menegaskan bahwa transformasi digital di IKN wajib menempatkan masyarakat sebagai pusat pembangunan. “Kota yang paling cerdas belum tentu kota yang memiliki teknologi paling banyak. Kota yang paling cerdas adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakatnya,” ucap Agung dalam keterangan resminya, Kamis, 3 September 2026.
Komitmen tersebut ditindaklanjuti secara internal melalui kegiatan Jumat Belajar bertema "Manajemen dan Pemanfaatan Data" di Kantor Otorita IKN pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kegiatan yang menghadirkan Direktur Sistem Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Joko Parmiyanto, ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) birokrasi dalam mewujudkan digital government. Penguatan tata kelola data dinilai semakin krusial karena adopsi teknologi canggih tidak akan berfungsi optimal tanpa dukungan data yang terstandar, transparan, terintegrasi, dan aman.
Sebagai peta jalan ke depan, Agung Indrajit merumuskan tiga aspek utama yang harus didorong dalam pengelolaan data IKN: membangun data berkualitas yang melibatkan instansi pembina (seperti BPS untuk data statistik, BIG untuk data geospasial, dan Kemenkeu untuk data keuangan); memperkuat integritas serta interoperabilitas lintas instansi; serta meningkatkan pemanfaatan data melalui analisis mendalam (deskriptif, diagnostik, prediktif, hingga preskriptif). Melalui sinkronisasi ini, Otorita IKN memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan—mulai dari perencanaan hingga evaluasi kebijakan—selalu didasarkan pada data akurat yang dapat dipertanggungjawabkan.
sumber bacaan: rri, seputarfakta, jurnalborneo












